Dari proses yang tidak selalu mulus, mereka berhasil membangun sistem yang memanfaatkan maggot untuk mengurai sampah sekaligus sebagai pakan ternak. Program ini kemudian dipadukan dengan budidaya ayam KUB, menciptakan siklus yang saling mendukung antara pengelolaan limbah dan ketahanan pangan.
“Awalnya kami juga banyak keliru, banyak sampah organik yang jadi belatung, tetapi dari kesalahan tersebut kami mulai memperbaiki hingga program bisa berjalan dan berkelanjutan hingga saat ini,” katanya.
Baca Juga:
Bupati Karo Lepas Peserta, Ribuan Warga Meriahkan Pawai Takbiran di Kabanjahe
Program maggot dan ayam KUB kini menjadi salah satu inisiatif yang terus berjalan. Selain mengurangi dampak sampah, program ini juga memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi warga sekitar.
Upaya tersebut semakin berkembang dengan pendampingan dari Rumah Amal Salman wilayah Yogyakarta, yang turut mendukung penguatan program, termasuk rencana untuk pengembangan ketahanan pangan berbasis keluarga.
“Harapannya, setelah ini kita bisa menularkan ketahanan pangan skala keluarga kepada warga. Entah nanti ada kebun yang isinya ayam, ada juga sayur -sayuran, minimalnya bisa untuk memenuhi kebutuhan keluarga itu sendiri,” imbuh Fertidianto.
Baca Juga:
Tak Pulang Demi Terang, Riki Waberta 4 Tahun Tak Mudik Jaga Listrik Istana dan Jutaan Pelanggan Saat Lebaran
Di sisi lain, mereka juga membuka ruang belajar bagi masyarakat melalui sebuah pendopo yang kerap digunakan untuk berbagai kegiatan, mulai dari pertemuan warga, latihan seni, hingga edukasi lingkungan.
Bagi pasangan ini, ruang berkumpul menjadi penting di tengah perubahan zaman yang serba cepat. Di sanalah interaksi sosial, pertukaran gagasan, dan semangat kebersamaan terus dijaga.Ke depan, mereka berharap apa yang telah dirintis tidak berhenti di satu tempat.
“Kami ingin ini menjadi tempat belajar bersama. Siapa saja bisa datang, belajar, lalu meneruskan di tempatnya masing-masing,” kata Fertidianto.