JABAR.WAHANANEWS.CO — Di Desa Guwosari, kisah Fertidianto dan istrinya menunjukkan bahwa pengabdian sosial tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Justru, dari kesamaan visi sejak muda, keduanya membangun langkah-langkah kecil yang kini memberi dampak nyata bagi masyarakat sekitar.
Sebelum menikah, mereka telah aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Mulai dari pendampingan warga, mengantar pasien, hingga terlibat dalam organisasi kemanusiaan. Kebersamaan dalam aktivitas tersebut menumbuhkan kecocokan, bukan hanya secara personal, tetapi juga dalam cara pandang terhadap kehidupan.
Baca Juga:
Bupati Karo Lepas Peserta, Ribuan Warga Meriahkan Pawai Takbiran di Kabanjahe
“Kalau untuk membantu masyarakat, itu sudah menjadi panggilan jiwa. Dari awal kami sudah terbiasa menjalankan kegiatan sosial. Jadi ketika menikah, kami merasa sudah satu arah,” ujar Fertidianto.
Keputusan menikah bagi mereka bukanlah titik akhir, melainkan kelanjutan dari perjalanan pengabdian. Setelah berkeluarga, keduanya tetap bergerak di bidang sosial dengan pembagian peran yang lebih terarah.
Sang istri kini aktif mendampingi kelompok rentan marginal, seperti lansia, penyandang disabilitas, hingga perempuan kepala keluarga. Pendampingan dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari kelas kegiatan, kunjungan rumah, hingga ruang berbagi cerita bagi para lansia.
Baca Juga:
Tak Pulang Demi Terang, Riki Waberta 4 Tahun Tak Mudik Jaga Listrik Istana dan Jutaan Pelanggan Saat Lebaran
Sementara itu, Fertidianto mengambil peran di balik layar dengan mendukung keberlangsungan program yang dijalankan. Bagi mereka, kerja sosial bukan soal siapa yang terlihat, melainkan bagaimana manfaatnya bisa dirasakan.
“Kami senang mendampingi dan merangkul warga. Memang dalam keberjalannya cukup bertantangan, seperti adanya keluh kesah, tetapi melalui layanan home care semua bisa didengarkan dan dicari solusinya,” ujarnya yakin.
Selain pendampingan sosial, pasangan ini juga mengembangkan program lingkungan berbasis masyarakat. Berangkat dari persoalan sampah organik di wilayah mereka, keduanya mulai membudidayakan maggot sebagai solusi pengolahan sampah.
Dari proses yang tidak selalu mulus, mereka berhasil membangun sistem yang memanfaatkan maggot untuk mengurai sampah sekaligus sebagai pakan ternak. Program ini kemudian dipadukan dengan budidaya ayam KUB, menciptakan siklus yang saling mendukung antara pengelolaan limbah dan ketahanan pangan.
“Awalnya kami juga banyak keliru, banyak sampah organik yang jadi belatung, tetapi dari kesalahan tersebut kami mulai memperbaiki hingga program bisa berjalan dan berkelanjutan hingga saat ini,” katanya.
Program maggot dan ayam KUB kini menjadi salah satu inisiatif yang terus berjalan. Selain mengurangi dampak sampah, program ini juga memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi warga sekitar.
Upaya tersebut semakin berkembang dengan pendampingan dari Rumah Amal Salman wilayah Yogyakarta, yang turut mendukung penguatan program, termasuk rencana untuk pengembangan ketahanan pangan berbasis keluarga.
“Harapannya, setelah ini kita bisa menularkan ketahanan pangan skala keluarga kepada warga. Entah nanti ada kebun yang isinya ayam, ada juga sayur -sayuran, minimalnya bisa untuk memenuhi kebutuhan keluarga itu sendiri,” imbuh Fertidianto.
Di sisi lain, mereka juga membuka ruang belajar bagi masyarakat melalui sebuah pendopo yang kerap digunakan untuk berbagai kegiatan, mulai dari pertemuan warga, latihan seni, hingga edukasi lingkungan.
Bagi pasangan ini, ruang berkumpul menjadi penting di tengah perubahan zaman yang serba cepat. Di sanalah interaksi sosial, pertukaran gagasan, dan semangat kebersamaan terus dijaga.Ke depan, mereka berharap apa yang telah dirintis tidak berhenti di satu tempat.
“Kami ingin ini menjadi tempat belajar bersama. Siapa saja bisa datang, belajar, lalu meneruskan di tempatnya masing-masing,” kata Fertidianto.
Kisah mereka menunjukkan bahwa inspirasi komunitas dapat tumbuh dari kesederhanaan, dari dua orang yang berjalan searah, lalu mengajak lebih banyak orang untuk bergerak bersama untuk semakin bermanfaat.
[Redaktur: Mega Puspita]