Ada bala-bala, gorengan tempe, atau gehu.
Jika camilan belum cukup, ada bubur ayam, bubur kacang hijau, nasi goreng, nasi orak-arik, dan mi rebus yang bisa dipesan dan disajikan dadakan pula.
Baca Juga:
Survei 2025 Ungkap Gen Z Paling Toleran dan Unggul dalam Literasi Al-Qur’an
"Tiap hari selalu penuh mahasiswa. Ada juga masyarakat di sekitar ini, ada juga pelajar. Warjem ini buka 24 jam," kata Juhana (42) pemilik Warjem di lapak dagangannya, Minggu (6/3/2022).
Juhana yang warga Desa Dukuh Loh, Kecamatan Sindang Agung, Kabupaten Kuningan ini telah membuka warung tersebut sejak tahun 2007.
Bermodal Rp 10 juta, dia mengontrak bangunan warung seluas 2,5 x 4 meter.
Baca Juga:
Wamen PANRB dan Wamenhub Tinjau Posko Pusat Angkutan Nataru 2026, Pastikan Layanan Publik Tetap Optimal
Uang Rp6 juta dipakai biaya kontrakan setahun, sisanya dipakai modal beli perkakas dan bahan olahan.
"Begitulah, dua tahun pertama berjalan biasa saja. Tahun 2009 mulai terasa ada perubahan, semuanya dimudahkan, bahkan mulai punya pegawai, tiap tahun tambah satu pegawai," kata ayah dua anak, Mohamad Rizki Aulia Ramadan (12) dan Rafiski Haikal Januar (2) ini.
Suasana ramai di Warjem alias Warung Jembatan di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Minggu (6/3/2022) petang.