Ia menyoroti bahwa selama ini banyak proyek infrastruktur besar terjebak dalam sindrom ‘dibangun tapi tidak hidup’, karena tidak disuntikkan fungsi ekonomi strategis.
“Relokasi PTDI adalah intervensi kebijakan yang membuat bandara bergerak dan kawasan aglomerasi hidup. Ketika industri masuk, maka ekonomi akan mengikuti, bukan sebaliknya,” jelasnya.
Baca Juga:
Didukung Infrastruktur Strategis dan 7 Daerah, MARTABAT Prabowo–Gibran Nilai Helmy Yahya Sosok Tepat Majukan Metropolitan Rebana
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa MARTABAT Prabowo-Gibran akan mengawal langkah ini agar tidak berhenti sebagai wacana semata.
Tohom menilai bahwa pemerintah pusat dan Pemprov Jawa Barat sudah siap membangun koneksi multipolar antar kota penyangga, sehingga Rebana tidak berdiri sendiri, melainkan terkoneksi dengan Subang, Cirebon, Patimban, dan Bandung Raya.
“Konsep pembangunan harus bersifat jaringan, bukan titik tunggal. Jika PTDI hadir, maka ekosistem ekonomi pertahanan harus mengalir dari hulu ke hilir. Ini yang akan melahirkan kawasan metropolitan yang hidup dan kompetitif,” tegasnya.
Baca Juga:
Imbas Tarif Impor AS, MARTABAT Prabowo-Gibran Sebut Kawasan Metropolitan Rebana Jadi Sasaran Industri China
Tohom juga menyatakan bahwa keberanian mengambil keputusan strategis seperti ini akan menjadi tolok ukur seberapa serius negara mendorong industrialisasi baru di luar Jawa bagian barat yang selama ini hanya fokus pada Bekasi-Karawang.
Ia menutup dengan pernyataan tegas, “Relokasi PTDI ke Kertajati adalah pernyataan politik ekonomi bahwa Rebana siap menjadi koridor industri kedirgantaraan Indonesia.”
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]