Dalam kesempatan yang sama, Maulana, mahasiswa Universitas 17 Agustus (UNTAG) Cirebon yang juga merupakan Ketua KKN di Desa Sukasari menjabarkan bahwa,selama KKN Tematik yang dilakukan empat bulan telah menambah pengalaman yang sangat berharga bagi Maulana dan rekan-rekannya.
Selama di Desa Sukasari, Maulana beserta sembilan orang rekannya dari ISBI Bandung, ITG Garut memiliki tiga Indikator Kinerja Utama (IKU) yakni menurunkan nol kasus stunting, literasi kemiskinan ekstrim serta ovop.
Baca Juga:
100 Mahasiswa FST UNIAS Dimagangkan, Plt. Rektor: Jaga Citra dan Nama Baik
Dalam upaya nol kasus stuntin dan mencegah kasus baru kata Maulana dengan cara menghimbau ibu hamil untuk selalu memeriksa kesehatannya, cek kehamilan dan memberikan vitamin penambah darah, termasuk bagi remaja putri.
Di samping itu diberi penyuluhan mengenai pencegahan stunting, pergaulan bebas dan seks di luar nikah.
Sedangkan untuk literasi kemiskinan ektrim, memberikan edukasi dengan pemanfaatan pekarangan rumah dengan cara teras hijau dan budidaya lele dalam ember. Hasilnya dibagikan kepada masyarakat yang masuk ke golongan Penyasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE) Desil 1, yakni menunjukkan kondisi kelompok kesejahteraan yang paling rendah.
Baca Juga:
Soal Gugatan UU TNI ke MK, Mabes TNI Buka Suara
"Jadi ke depan budidaya ikan lele dalam ember lebih berkembang dengan sistem bioflog atau membuat kolam," kata Maulana.
Maulana mengatakan, untuk ovop di Desa Sukasari yakni pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan ketahanan pangan.
"Mengelola sampah organik dan anorganik. Organik untuk pakan magot, magot tersebut bisa dijual atau untuk pakan ayam kampung dan petelur," kata Maulana.