Jabar.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menilai kawasan Metropolitan Rebana yang meliputi Subang, Majalengka, hingga Cirebon sebagai salah satu kawasan industri terbaik di Indonesia saat ini.
Dukungan infrastruktur, masuknya investor besar, serta pengembangan konsep kota pintar menjadikan kawasan ini strategis dalam peta pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca Juga:
Dukung 'Detikcom Regional Summit', MARTABAT Prabowo-Gibran: Rebana Butuh Pemerataan Investasi dan SDM
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa kawasan industri di Rebana memiliki nilai tambah yang berbeda dibandingkan dengan kawasan lain.
“Metropolitan Rebana bukan hanya kawasan industri biasa, tetapi sebuah ekosistem masa depan. Ada integrasi antara infrastruktur modern, dukungan investor global, serta orientasi pada industri hijau dan digital. Ini menjadikannya salah satu kawasan paling menjanjikan di Indonesia,” ujar Tohom, Kamis (28/8/2025).
Ia menambahkan, masuknya pemain besar seperti produsen mobil listrik asal Tiongkok, BYD, dan perusahaan tekstil Xhinfang, menandai bahwa Rebana sudah menjadi magnet investasi internasional.
Baca Juga:
Siapkan 4 Daerah Unggulan, MARTABAT Prabowo Gibran Sebut Cirebon Andalkan Sektor Wisata Dukung Percepatan Realisasi Kawasan Metropolitan Rebana
“Ketika perusahaan besar dunia memilih Rebana, itu artinya kawasan ini sudah teruji dari sisi keandalan infrastruktur dan prospek jangka panjang. Investor tidak mungkin masuk jika kawasan tersebut tidak punya daya saing global,” jelasnya.
Menurut Tohom, keberadaan Subang Smartpolitan di dalam koridor Rebana adalah salah satu motor utama. Dengan belanja modal mencapai Rp 10 triliun yang dikelola PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), kawasan ini menjadi episentrum baru pertumbuhan industri modern.
“Subang Smartpolitan adalah contoh konkret bagaimana Rebana sedang membangun standar baru kawasan industri di Indonesia. Konsepnya menggabungkan efisiensi, konektivitas, dan keberlanjutan,” katanya.
Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa Metropolitan Rebana bisa menjadi model bagi pengembangan kawasan industri lain di Indonesia.
“Rebana adalah laboratorium aglomerasi modern. Jika berhasil, maka pola ini bisa ditiru di wilayah lain. Artinya, kita tidak hanya bicara tentang investasi, tapi juga tentang pemerataan ekonomi dan transformasi ruang hidup masyarakat sekitar,” tutur Tohom.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya keberpihakan pemerintah dalam memperkuat konektivitas Rebana dengan megapolitan lain, seperti Jakarta dan Bandung.
“Jika konektivitas jalan tol, kereta cepat, dan pelabuhan terus dikuatkan, maka Rebana akan menjelma menjadi lokomotif industri nasional. Efek ganda bagi tenaga kerja lokal, UMKM, dan rantai pasok nasional akan sangat signifikan,” ungkapnya.
Sebelumnya, Vice President of Investor Relation & Sustainability SSIA, Erlin Budiman, menyatakan bahwa kawasan Subang Smartpolitan ditargetkan menyumbang pendapatan sekitar Rp 444,5 miliar hingga akhir 2025.
Erlin juga menyebut masuknya BYD, Xhinfang, serta calon dua investor baru dari Tiongkok sebagai bukti daya tarik kawasan tersebut.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]