JABAR.WAHANANEWS.CO — Provinsi Jawa Barat kembali mencatatkan capaian investasi yang impresif pada tahun 2024. Dengan total investasi sebesar Rp251,14 triliun, provinsi ini berhasil menyerap sekitar 383.000 tenaga kerja.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Barat, Nining Yuliastiani optimistis, tren positif ini akan berlanjut pada 2025, seiring dengan target investasi yang lebih tinggi.
Baca Juga:
Diklaim Alami Kemajuan Signifikan, Kawasan Rebana Dinilai Jadi Penggerak Ekonomi Baru di Jabar
"Kami yakin peningkatan investasi akan berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja. Oleh karena itu, kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci," ujar Nining dalam acara Bewara Jawa Barat (Beja) di Bandung beberapa waktu lalu, dikutip Sabtu (5/4/2025).
Nining menyoroti, Kawasan Rebana sebagai destinasi favorit investor di Jabar. Dengan luas lahan yang memadai dan infrastruktur yang lengkap, kawasan ini mengalami lonjakan investasi hingga tiga kali lipat sejak ditetapkan sebagai kawasan industri.
Tak hanya itu, realisasi investasi 2024 terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp149,5 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp101,54 triliun. Sebagian besar investasi ini terkonsentrasi di lima kabupaten/kota, terutama di wilayah utara Jabar yang menyerap hingga 75 persen dari total investasi.
Baca Juga:
Kecelakaan di Jalur Kamojang Bandung, Pasangan Pemudik Asal Depok Tewas
Meskipun investasi terus meningkat, tantangan terbesar yang dihadapi adalah kesiapan tenaga kerja. Nining mengungkapkan bahwa investor membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar dengan spesifikasi tertentu. Oleh karena itu, Balai Latihan Kerja (BLK) diharapkan mampu menyesuaikan pelatihan dengan kebutuhan industri.
"Investor yang masuk sudah meminta tenaga kerja dalam jumlah besar, tetapi tentu dengan keahlian yang spesifik. BLK harus lebih jeli melihat kebutuhan ini," tegasnya.
Adapun, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jabar, Muslimin Anwar, memperkirakan investasi di Jabar akan tumbuh antara 7-8 persen dibanding tahun sebelumnya. Ia menyebut beberapa faktor yang mendorong pertumbuhan ini, seperti kondisi politik yang stabil pasca-Pilpres dan Pilkada 2024, serta segera dilantiknya kepala daerah baru.